SITUASI perekomian Indonesia, termasuk Jambi, sedang tidak baik. Kitakerap mendengarkan pernyataan itu belakangan ini. Inipun ditunjukkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi pekan lalu. Disebutkan, pertumbuhan ekonomi Jambi triwulan I 2015 mencapai 5,9 persen. Pertumbuhan ini cukup melambat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2014, yaitu 10,6 persen. BPS menyebutkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh lapangan usaha jasa kesehatan dan kegiatan sosial, pertanian, dan kehutanan, serta pertumbuhan pada lapangan usaha informasi dan komunikasi. Sumber pertumbuhan ini tertinggi berasal dari komponen ekspor yaitu 11,5 persen Situasi di Jambi ini tidak beda jauh dariapa yang terjadi pada tingkat nasional. Namun meski pertumbuhan ekonomi melambat dibanding tahun lalu, kita di Jambi mendapat informasi yang cukup menghibur. Informasi dari Badan Penanaman Modal Daerah (BPMD) dan Pelayanan Perizinan Terpadu (PPT) Provinsi Jambi menunjukkan bahwa Jambi tetap mendapat dilirik investor. Sejak Januari hingga April 2015, BPMD dan PPT mencatat sejumlah investor skala besar telah mengajukan Izin Rencana Investasi (IRI). Nilainya pun cukup besar, hampir Rp 2,8 triliun. Setidaknyasudah enam perusahaan mengajukan IRI. Mereka akan berinvestasi di bidangpabrik minyak kelapa sawit, industri karet remah (crumb rubber), perkebunan buah kelapa sawit, industri kertas tisu, dan industri air dalam kemasan dan air mineral. Sektor yang dibidik investor Rp 2,8 triliun ini sejalandengan perekomian Jambi yang di antaranya didominasi pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Bisnis di sektor ini (kelapa sawit, karet, kehutanan) masih menjanjikan bagi pengusaha. Penanaman investasi ini tidak saja pada industri baru, melainkan juga pada pengembangan investasi yang sudah ada. Ini terlihat dari ajuan izin berupa izin prinsip perluasan, izin usahapenanaman modal, dan izin prinsip perluasan penanaman modal. Investasibaru ini cukup menggembirakan mengingat investasi adalah faktor penting bagi pertumbuhan perekonomian dan pembangunan. Investasi yang tinggi akan membuka peluang besar bagi penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penanaman investasi baru dan pengembangan (perluasan) investasi yang ada setidaknya menunjukkan Jambi masih kondusif bagi investasi. Untuk itu, kita berharap situasi ini perludijaga bahkan harus ditingkatkan lebihbaik untuk menarik jauh lebih banyak investor. Perizinan dan regulasi yang kerap menghambat iklim berinvestasi terus menerus diperbaiki. Dan infrastruktur sebagai akses ke kawasan industri tetap menjadi prioritas. Ke depannya, rencana investasi ini perlu digawangi untuk dapat terealisasi. Perlu pengawasan berkelanjutan bagi realisasinya serta evaluasi terus menerus agar memberi manfaat bagi kita. Dan an pada akhirnya dapat menyumbang bagi pertumbuhan perekonomian di Jambi.
Kali ini saya akan share tentang awal mula terbentuknya nama jambi. Baiklah langsung di simak ceritanya.. di suatu kerajaan yang terletak di Pulau Sumatera ada seorang gadis cantik bernama Putri Pinang Masak. Putri itu sangat terkenal bukan hanya karena kecantikan, namun juga karena sifatnya yang lemah-lembut dan baik hati.Putri Pinang memiliki kecantikan yang sangat luar biasa. Kulitnya putih kemerah-merahan seperti namanya, yaitu bagai kulit pinang yang masak. Siapa pun yang melihat kecantikan sang putrid pasti akan terpesona.Semua penduduk negeri itu menyukai Putri Pinang. Para wanita, terutama yang seumur dengannya ingin bersahabat dengannya. Sebaliknya, para pemuda dan pangeran ingin mempersuntingnya.Pada suatu hari datanglah lamaran seorang raja yang kaya raya dan amat luas kekuasaannya. Dia memiliki tambang emas dan perak. Tentu jika lamarannya ditolak, pasti sang raja akan marah dan murka, bahkan mungkin akan timbul pertumpahan darah. Namun, dengan demik...
Comments
Post a Comment